Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘What do you think?’ Category

Read Full Post »

Jumat, 26/03/2010 10:49:33 WIB Oleh: Sutan Eries Adlin

Gayus Halomoan Tambunan, pastilah membuat iri banyak orang-tidak hanya para pegawai negeri sipil di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Usianya baru 30 tahun, tetapi di rekeningnya pernah mampir angka 25 dengan sembilan angka nol di belakangnya alias Rp25 miliar.

Golongannya baru IIIA. Pada 2000 dia bekerja di Ditjen Pajak selulusnya dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Coba bandingkan dengan kekayaan mantan orang nomor satu di Ditjen Pajak yang kini menjabat Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, Hadi Poernomo. Pundi-pundi Pak Poeng, begitu dia biasa dipanggil, ‘hanya’ Rp38,8 miliar, dan Rp36 miliar di antaranya diklaim hibah dari orangtua dan mertua.

Hadi, yang juga alumnus STAN, konon memang berasal dari keluarga ‘balung gajah’, eufimisme untuk menyebut asal usul kemapanan seseorang oleh karena faktor keturunan. Ayahnya, menurut satu sumber, adalah seorang adipati pada sebuah kota eks karesidenan di Jatim.

Tentu saja istilah hibah tidak bebas nilai, belakangan malah menjadi cara paling mudah menyebutkan asal-usul kekayaan para pejabat publik. Boleh jadi, itulah sebab Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih meneliti laporan kekayaan itu.

Lain lagi dengan M. Misbakhun, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dikenal sebagai pemilik PT Selalang Prima Internasional (SPI). Dia mantan pegawai di Ditjen Pajak yang mengundurkan diri, berganti baju sebagai pengusaha sebelum terjun ke dunia politik.

Inisiator Hak Angket Bank Century DPR tersebut juga alumni STAN dan mulai meniti karier di Ditjen Pajak pada 1992. Pria berusia 40 tahun ini mengundurkan diri pada 2005.

Selain sebagai pemegang saham mayoritas, Misbakhun sekaligus komisaris PT SPI, yang memiliki utang berupa L/C senilai US$22,5 juta (Rp207 miliar) dari Bank Century (kini Bank Mutiara), dan telah direstrukturisasi. Masalah L/C tersebut merebak ketika Staf Khusus Presiden, Andi Arief, menengarai jaminan kredit itu bermasalah dan kini Bareskrim Mabes Polri mengusut kasus tersebut.

Sebaliknya, Misbakhun justru melaporkan balik Andi Arief ke polisi dalam kaitan pencemaran nama baik.

Komjen Susno Duadji, juga dilaporkan koleganya sesama jenderal di kepolisian dengan tuduhan serupa, setelah merilis dugaan makelar kasus dalam penanganan kasus Gayus.

Gayus berkilah uang Rp24,65 miliar itu titipan Andi Kosasih, koleganya yang memiliki bisnis properti dan garmen di Batam dan Jakarta. Entah lah, tetapi yang jelas Gayus punya rumah di kawasan elite Gading Park View Blok ZE Nomor 1 dengan mobil BMW seri terbaru di garasinya.

Mari kita bayangkan berapa banyak uang puluhan dan ratusan miliar itu, terutama Rp25 miliar yang pernah ada di rekening Gayus. Kapan saya bisa punya duit segitu?

Andaikan saya mampu menabung Rp5 juta setiap bulan. Lalu, urusan lain seperti cicilan rumah dan mobil, biaya bulanan rumah tangga, uang pendidikan anak, tetek bengek asuransi, dan dana hura-hura sudah beres.

Kalau mau bisa seperti itu, berarti take home pay paling sedikit Rp20 juta per bulan-penghasilan yang lebih dari cukup dibandingkan dengan rata-rata penduduk Indonesia. Dalam bahasa gampangnya, dengan Rp20 juta per bulan, orang bisa hidup enak lah.

Coba kita bandingkan dengan rekening Gayus; Rp25 miliar yang sama dengan Rp25.000 juta. Artinya, kalau berharap bisa punya uang sebanyak itu dengan kemampuan menabung Rp5 juta per bulan, saya harus sering-sering ke bank selama 5.000 bulan.

Untuk hitungan ribuan bulan, mengingatkan dengan Lailatul Qadar. Menurut pak ustad, malam suci itu lebih baik dari 1.000 bulan yang setara dengan 83 tahun.

Jadi, kalau mau ada angka 25 dengan sembilan nol di belakangnya di rekening, butuh menabung 5.000 bulan atau 5 kali 83 tahun alias lebih dari 400 tahun.

Waduh, berarti untuk penghidupan yang lumayan enak itu, seseorang harus hidup, lalu mati, kemudian hidup lagi sebanyak 5 kali untuk bisa punya kekayaan Rp25 miliar. Weleh…weleh..weleh.

Kisah Gayus benar-benar memaksa saya geleng-geleng kepala, kadang juga manggut-manggut tak habis pikir. Pasalnya, sebagai tenaga penelaah keberatan di Ditjen Pajak, 90% permohonan keberatan yang diajukan oleh wajib pajak ditolak oleh Gayus.

Dengan begitu, proses penyelesaian sengketa pajak dilimpahkan ke tingkat yang lebih tinggi yakni Pengadilan Pajak.

“Rata-rata pekerjaan dia [Gayus] bagus karena 90% keberatan ditolak. Kalau [keberatan] diterima berarti ada uang yang masuk, tetapi ini kerjaan dia rata-rata menolak keberatan,” ungkap seorang sumber Bisnis di Ditjen Pajak.

Apalagi ternyata Pengadilan Negeri Tangerang menetapkan vonis bebas. Jadi, secara legal formal, tidak ada perilaku yang melawan hukum dari seorang Gayus Tambunan selama ini.

Polisi pun-sebelum mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Komjen Pol. Susno Duadji berkoar-koar tentang makelar kasus-memandang hanya kurang dari Rp400 juta uang di rekening Gayus yang ada persoalan. Sisanya, Rp24,65 miliar dinyatakan bersih.

Ada yang janggal

Untunglah Kepala Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Hussein cukup menjawab kebingungan saya tentang hal ihwal rekening seorang Gayus-termasuk kasus pencucian uangnya.

Yunus mengakui PPATK merasa janggal uang sebesar itu tidak dipersoalkan di pengadilan. PPATK sendiri telah empat kali melaporkan kepada polisi transaksi mencurigakan dalam rekening Gayus.

Menurut dia, transaksi mencurigakan itu tidak hanya berasal dari satu dua orang saja, tapi dari banyak orang.

Kejanggalan terhadap pengusutan kasus Gayus itu akhirnya juga dirasakan oleh Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana, kemudian menular ke Jaksa Agung Hendarman Supandji dan Kapolri Jenderal Pol. Bambang Hendarso Danuri. Intinya, soal penggelapan pajak dan pencucian uang itu belum selesai.

Kisah makelar kasus dan penggelapan pajak yang menyeret Gayus memang memiliki beberapa ‘lokasi syuting’.

Para petinggi di Mabes Polri, Kejaksaan Agung, dan Pengadilan Negeri Tangerang, lokasi salah satu episode kasus Gayus, harus bekerja keras untuk menjelaskan bahwa apa yang terjadi cuma ulah oknum bukan institusi.

Saya yakin petinggi di Ditjen Pajak dan Kementerian Keuangan pun juga mengalami hal yang sama dengan kolega mereka di kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan.

Sebagai contoh, kasus Gayus pastilah mencoreng kampanye besar Ditjen Pajak tentang pentingnya membayar pajak.

Apalagi, 31 Maret adalah tenggat penyerahan surat pemberitahuan tahunan (SPT) pajak, bagi sekitar 16 juta wajib pajak terdaftar alias ber-NPWP (nomor pokok wajib pajak).

“Orang disuruh-suruh bayar pajak yang bener, eee.., tau-taunya…?” ujar teman tanpa menyelesaikan kalimatnya. Mendengar nada sinis dari banyak orang terkait dengan kasus penggelapan pajak itu, makin sering saja pada hari-hari belakangan.

Contoh lainnya menyangkut program besar Lapangan Banteng dalam reformasi birokrasi yang salah satu komponennya adalah dengan menaikkan gaji PNS. Lah, bukannya orang pajak sekarang gajinya udah gede. Kok masih kayak gitu. Apa kata dunia?

Apalagi 2 hari lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berteriak lantang. “Isilah SPT untuk bayar pajak, karena sumber penerimaan banyak dari pajak. Anda boleh marah kalau ada yang korupsi di kementerian saya,” ucapnya pada sebuah seminar. (eries.adlin@bisnis.co.id)

Read Full Post »

Lapan: Badai Matahari Terjadi Antara 2012-2015

Film fiksi ilmiah ‘2012’ yang menceritakan tentang terjadinya badai matahari (flare) bukan isapan jempol belaka. Flare diperkirakan akan terjadi antara tahun 2012-2015. Namun, tak serta merta hal itu melenyapkan peradaban dunia.

“Lapan memperkirakan puncak aktivitas matahari akan terjadi antara 2012 hingga 2015. Pada puncak siklusnya, aktivitas matahari akan tinggi dan terjadi badai matahari,” ujar Kabag Humas Lapan Elly Kuntjahyowati dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (4/3/2010).

 Flare tersebut, imbuhnya, merupakan salah satu aktivitas matahari selain medan magnet, bintik matahari, lontaran massa korona, angin surya dan partikel energetik. Ledakan-ledakan matahari itu, bisa sampai ke bumi. Namun, flare yang diperkirakan akan terjadi itu tak akan langsung membuat dunia hancur.

 “Masyarakat banyak yang menghubungkan antara badai matahari dengan isu kiamat 2012 dari ramalan Suku Maya. Ternyata dari hasil pengamatan Lapan, badai matahari tidak akan langsung menghancurkan peradaban dunia,” imbuhnya.

 Efek badai tersebut, lanjut dia, yang paling utama berdampak pada teknologi tinggi seperti satelit dan komunikasi radio. Satelit dapat kehilangan kendali dan komunikasi radio akan terputus.

 “Efek lainnya, aktivitas matahari berkontribusi pada perubahan iklim. Ketika aktivitas matahari meningkat maka matahari akan memanas. Akibatnya suhu bumi meningkat dan iklim akan berubah,” jelas Elly.

 Partikel-partikel matahari yang menembus lapisan atmosfer bumi akan mempengaruhi cuaca dan iklim. Dampak ekstremnya, bisa menyebabkan kemarau panjang. Namun hal ini masih dikaji oleh para peneliti.

 Lapan pun berniat mensosialisasikan dampak aktivitas matahari ini ke masyarakat. Sosialisasi Fenomena Cuaca Antariksa 2012-2015 pun akan digelar di Gedung Pasca Sarjana lantai 3, Universitas Udayana, Jl Jenderal Sudirman, Denpasar, Bali pada 9 Maret 2010 pukul 11.00 Wita.

 detikcom – Jumat, 5 Maret

Read Full Post »

Bank Century; Akibat Manajemen Buruk dan Krisis Global

Hancurnya Bank Century sehingga harus diselamatkan oleh pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui suntikan dana Rp 6,7 triliun terjadi karena perpaduan pengurusan bank yang mengarah pada tindak kriminal serta krisis ekonomi global yang terjadi.

Surat-surat berharga bodong yang ada di Century menjadi salah satu pemicu bobroknya kondisi bank tersebut.

“Belakangan dilihat ada pengaruh Antaboga, masalah surat bodong itu pasti ada pengaruhnya dari Bank Century. Tetapi diperburuk karena kondisi krisis global, kalau keadaan seperti itu tidak dalam krisis global, maka tidak akan meletus seperti itu. namun suatu saat pasti akan meletus juga,” tutur Miranda Goeltom usai rapat dengan Pansus Century di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (22/12/2009).

Dalam kesempatan tersebut, Miranda juga menjelaskan mengenai proses merger 3 bank yaitu Bank CIC, Bank Danpac, dan Bank Pikko menjadi Bank Century. Miranda mengatakan, BI sebagai pihak yang mendorong terjadinya merger 3 bank yang memang sudah buruk kondisinya tersebut.

“Ini (Century) merupakan voluntary merger, karena ada syarat-syaratnya supaya sehat sebelum dipenuhi. Makanya dari 2001 sampai 2004, makan waktu 3 tahun untuk memenuhi syarat tersebut,” jelasnya.

Miranda mengatakan, keputusan merger 3 bank tersebut dilakukan melalui keputusan Rapat Dewan Gubernur. Namun Miranda mengakui dirinya tidak menghadiri rapat tersebut.

“Itu Dewan Gubernur BI yang memutuskan, tapi saya tidak hadiri rapat yang memutuskan merger itu,” tutupnya.

PT Bank Century Tbk (BCIC) pada awalnya ternyata agen penjual produk investasi yang diterbitkan PT Antaboga Delta Sekuritas. Hal itu diketahui berdasarkan pemeriksaan awal Bank Indonesia (BI) pada 2005.

“Tapi, dari penelusuran BI diketahui produk yang dijual tidak mempunyai izin dari Bapepam,” kata Deputi Gubernur BI, Siti Ch Fadjrijah dalam pertemuan dengan Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa 10 Februari 2009.

Berikut kronologi versi BI:

2005
Berdasarkan pemeriksaan awal 2005, Bank Century memang menjadi agen penjual produk Antaboga. Dari penelusuran BI diketahui produk yang dijual tidak mempunyai izin dari Bapepam-LK.

Mei 2005
BI membahas secara internal karena saat itu produk reksa dana sedang marak.

Juli 2005
BI mengeluarkan aturan bagaimana bank bisa menjadi agen penjual reksa dana. Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa bank dilarang menjamin pelunasan bagi hasil dan nilai aktiva bersih (NAB).

Bank juga wajib melapor ke BI setiap bulan mengenai produk reksa dana yang dijual.

Selanjutnya, BI mengadakan rapat pimpinan (executive meeting) dan hasilnya otoritas mengeluarkan memo internal untuk menghentikan penjualan produk Antaboga. Memo itu disampaikan ke seluruh cabang Bank Century per 22 Desember 2005.

Awal 2006
Pengawas BI berpura-pura menjadi nasabah Bank Century. Ternyata produk itu masih ada. BI memangil dan menegur Bank Century. Pada bulan itu juga Bank Century mengeluarkan memo untuk mempertegas penghentian penjualan produk Antaboga.
Setelah itu, di buku bank tidak ada catatan-catatan dalam pembukuan.

BI langsung memberikan informasi tersebut ke Bapepam-LK dan meminta untuk meneliti reksa dana yang dijual Antaboga.

Dari temuan BI sejak 2005, formulir penjualan produk itu awalnya terdapat logo Antaboga dan Bank Century. Namun, belakangan sudah tidak ada logo Bank Century, hanya Antaboga.

Read Full Post »

Do you know this song?

It is a song from a Video Game. If you purchase Nintendo back in the 1990, you will definitely get this game. The rest of the songs are all time songs. Enjoy!

This guy is AWESOME!

Read Full Post »

I don’t want to talk “long and wide” (panjang lebar, he..he..he..), because I do not want to be called that I am a part of this party or that party or I am pro this candidate and that candidate. because noone is perfect.

However, as a part of academicians I choose DR. (Gen) SBY & Prof. Boediono. Both have no interest in corruption, have astonishingly clear track records of any corruption whatsoever, and Prof Boediono is the only candidate that has no political interest, which means that he will work PROFESSIONALLY as a profesional. DR. SBY admires professionals because he himself is a professional soldier. He is discipline and humble, the same with Prof Boediono.

NOBODY is PERFECT. DR. SBY and Prof Boediono are not perfect either. However I am so tired of dirty businessmen and politicians who only protect certain people’s interest. It is time for everyone to get a fair chance of a better life, and be wealthy. Let’s work professionally and be professional! Eliminate collusion, and corruption that has corrupted and almost obliterated our generation’s moral and discipline.

So once again, this is NOT an attempt of persuasion or anything like it. I am just a critical civilian who wants the best for my country and really craving for betterment. I believe that Indonesians are SMART, INTELLIGENT, CRITICAL and are able to distinguish the RIGHT and WRONG, and DO the RIGHT action as smart, intelligent and critical people.

If you are wise, smart, intelligent, and tired of them politicians who only want to gain wealth for themselves and their husband, gank or whatever, then you MUST choose the right candidate.

The most important thing is make a choice. Exercise your right to choose. CHOOSE. Do not let this country fall into the hand of someone’s husband who obsessively abused his wife’s power to gain as much profit as possible, insulted a five-star general by calling him “anak kecil“, has a vivid track record of indiscipline &  immorally exploiting our country’s resources to abruptly increase his wealth.

Please, exercise your right to choose. Moreover choose wisely and intelligently. I believe that we are all intelligent and smart people. Do the right thing. Choose the right candidate. Send a strong message to those dirty businessmen, politicians and corrupted officials. SAY NO to DIRTY POLITICIANs, DIRTY OFFICIALS, DIRTY BUSINESSMEN,  and CORRUPTION.

This is the time! The moment! We are creating our own history! We are in it! Let history record that we do the right thing! SAY “WE ARE NOT STUPID! WE ARE SMART! WE KNOW EVERYTHING! WE HAVE YOUR TRACK RECORD!”

Read Full Post »

TARIF BARU = TARIF LAMA x 1+ (INFLASI)

That is the exact formula written in the contract between Jasa Marga and the Indonesia Government namely :

Undang-Undang no.38/2004 tentang Jalan dan Peraturan Pemerintah 15/2005 tentang Jalan Tol.  The law states that toll road operator is ENTITLED to get tariff adjustment every two years, and the nominal depends on INFLATION from August 2007 (+/-8%) until August 2009 (+/-6%).The total is +/- 14%.

CEO of Jasa Marga, Frans Sumito, Tuesday (12/5) in Jakarta said to the press that at this moment the currently implemented tariff of toll road is around Rp 120 per kilometer (km). If the new tariff adjustment reached 20%, then it will be around Rp 24 per km. Therefore, the new toll tariff is Rp 144 per km.

This is the list of all toll road jointsoperated by JASA MARGA:

Toll Roads

No Ruas jalan tol Akronim Provinsi Panjang (km) Dioperasikan Tahun Investor
1 Jakarta-Bogor-Ciawi Jagorawi Jakarta, Jawa Barat 59,00 1973 – 1978 PT Jasa Marga
2 Jakarta-Tangerang** Jakarta, Banten 33,00 1984 – 1992 PT Jasa Marga
3 Surabaya-Gresik Jawa Timur 49,00 1987 – 1993 PT Jasa Marga
4 Jakarta-Cikampek* Jakarta, Jawa Barat 83,00 1986 – 1993 PT Jasa Marga
5 Padalarang-Cileunyi* Padaleunyi Jawa Barat 64,40 1989 – 1992 PT Jasa Marga
6 Prof. Dr. Sedyatmo Jakarta-Banten 14,30 1985 PT Jasa Marga
7 Lingkar Dalam Kota Jakarta Jakarta 23,55 1991 PT Jasa Marga
8 Belawan-Medan-Tanjung Morawa Belmera Sumatera Utara 42,70 1987 – 1990 PT Jasa Marga
9 Semarang Section A,B,C Jawa Tengah 34,75 1987 – 1998 PT Jasa Marga
10 Ulujami-Pondok Aren Jakarta 5,55 1999 PT Jasa Marga
11 Palimanan-Kanci Palikanci Jawa Barat 26,30 1991 – 1999 PT Jasa Marga
12 JORR W2 Selatan
(Pondok Pinang-Veteran)
Jakarta 2,40 1989 PT Jasa Marga
13 JORR E1 Selatan
(Taman Mini-Hankam Raya)
Jakarta 5,30 2002 PT Jasa Marga
14 JORR E2
(Cikunir-Cakung)
Jakarta 9,07 1990 PT Jasa Marga
15 Cikampek-Purwakarta-Padalarang* Cipularang Jawa Barat 59,00 2001 – 2003 PT Jasa Marga
16 Tangerang-Merak** Banten 73,00 1989 PT Marga Manggalasakti
17 Ir. Wiyoto Wiyono, M.Sc. Jakarta 15,50 1991 PT CMNP
18 Surabaya-Gresik Jawa Timur 20,70 1992 – 1994 PT Marga Bumi Mataraya
19 JORR Selatan
Pondok Pinang-Taman Mini
Jakarta 14,25 1989 PT Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta
20 Tol Pelabuhan
Pluit-Ancol-Jembatan Tiga
Jakarta 11,55 1995 PT CMNP
21 Makassar Tahap I Sulawesi Selatan 6,05 1998 Bosowa Marga Nusantara
22 Serpong-Pondok Aren Banten 7,25 1997 PT Bintaro
23 SS Waru – Juanda Jawa Timur 8,23 2007 PT CMS
24 Jembatan Weleri Jawa Tengah 2,37 2008 PT Jasa Marga
25 JORR E4
Jatiasih – Cikunir
Jawa Barat 3,29 2007 PT Jasa Marga
26 Palembang-Indraraya Sumatera Selatan 40 Rencana PT Jasa Marga
27 Jalan Tol Lingkar Luar Bogor
(Bogor Ring Road)
Jawa Barat 11 Rencana PT Marga Sarana Jabar

Read Full Post »

Older Posts »